Friday, 26 May 2017

Istirahat

Berapa banyak waktu yang akan kita perlukan untuk istirahat? Sehari, seminggu, setahun kah? Atau kita hanya perlu pergi sebentar dan menghilang. Entahlah, tapi dunia ini begitu sibuk seperti perubahan musim yang baru menjelang. Seperti seseorang yang sekarang tidak mau lagi berfikir.

Akhir- akhir ini beberapa teman baik kembali ke peraduannya. Meninggalkan keceriaan yang hanya cuma sebentar tercipta. Bercanda, curhat tentang betapa sakitnya ditinggal nikah saat lagi sayang- sayangnya, konyolnya ditikung orang yang lebih tua, sedihnya terjebak friendzone yang menyiksa, berdebat soal agama, dan harapan ketika hari tua nanti akan bagaimanakah kita. Kita hanya tak sengaja bertemu, dan menjalani itu semua. Dan ketika kita kembali, kita hanya akan menjadi diri kita sendiri.

Satu lampu merah menghentikan beberapa pejalan. Membuat sedikitnya waktu yang tersisa dan dipaksa menikmatinya. Akankah ini akan berakhir sama? Seperti detik yang membosankan, seperti kopi yang tampak hitam, seperti pula waktu yang terus berjalan. Kita dan beberapa slogan kegembiraan menyatu menyambut hari baik nanti. Berharap kita bisa melaluinya, seperti yang sudah- sudah.

Dan, tenang saja. Hari ini akan berakhir seperti biasanya. Meninggalkan pesan di awang- awang agar nanti, kapan saja bisa dibaca. Mungkin kita tidak akan mau berfikir lagi untuk hal ini, karena itu hanya akan menghabiskan tenaga dalam. Biarkan salah seorang dari kita yang menanggungnya. Seperti yang kita sama tahu, bahwa seorang "domba" adalah orang yang keras kepala. Jadi, tidak akan bergeming kalau belum sampai akhir. Atau kalau tidak, pukul saja kepalanya biar "domba" sadar.

Selamat menjalankan apa yang memang menjadi kewajiban. Dan berdoa untuk hal yang baik. Contohnya.....?

Tuesday, 23 May 2017

re.mind

Sebuah angin segar kembali menyapa. Buru- buru  melayangkan jauh pandangan mata dan tak terukur adalah sebuah pilihan. Dan tetap saja, siapapun kita, kita tak bisa melihat masa depan. Dan rupanya, ada yang terus berlanjut dari apa saja yang sedang dijalani. Dari sekedar sering bercerita, sampai dengan halaman dimana sebuah antusias mulai menyejukkan. Aku, kamu dan para bajak laut yang tak sengaja lewat juga ikut berpartisipasi dalam cerita. Mungkin kita sedang bermimpi.

Apa yang paling membuat kita bisa bertahan dalam hal sulit sekalipun. Ya, kita sama- sama tahu kalau tidak semua orang pernah mengalami kesulitan. Anggap saja ini urusan kita, dan hanya kita yang tahu. Bahwasannya apapun kesulitan itu, kita hanya perlu yakin dengan hal yang kita yakini. Meski kita tidak pernah tahu dan selalu ragu tentang benar atau salahnya hal itu. Mungkin kita hanya perlu menjalani, dan biarkan semua mengalir. Seperti kata seseorang yang duduk di bangku paling belakang. Dan sebenarnya, ada saja yang tidak menyukai tentang 'mengalir'.

Sejenak terdiam, dengan sekali lemparan dadu dan semua akankah terlihat? Ada tida hal yang perlu dibicarakan. Pertama, waktu yang sangat tepat. Kedua, Waktu yang sangat tepat. Dan ketiga, waktu yang sangat tepat. Hahahahahahahahaha..............mendoo.....!

Pertama. Waktu yang sangat tepat. Kedua, Sebuah ujian kecil. Ketiga, ini hal yang tidak penting dan buang- buang waktu.

Dan sayangnya, dari semua yang sudah dilewati, beberapa dari kita mungkin belum siap dengan apa yang  akan terjadi sekarang. Si Aries yang tak suka perubahan, benar- benar yang paling sulit dinasehati. Dan si anu yang anu juga, benar benar tau apa yang harus dilakukan. Oh, maaf. Tapi ini bukan pertandingan. Ini hanya jalan yang harus dijalani. Dan sambil melangkah, siapapun boleh saja membawa bekal untuk nanti. siapa tahu lapar. Karena, setiap perjalanan itu selalu melelahkan. "percaya deh sama abang."

Dan angin segar kembali bertiup. Menerbangkan beberapa hening yang berusaha memelukmu lebih erat. Supaya kamu selalu ingat, ada orang yang merindukanmu di luar sana. Selamat ngopi....!

Wednesday, 1 March 2017

Esensi

Sebuah percakapan menjelang waktu tidur menjadi awal sebuah gagasan. Sedikit tapi rumit. Yang sepertinya akan banyak butuh perasan otak dan juga keringat di tengah sederhananya hari ini. Seperti ketika pengagum senja bertemu pecinta hujan. Mungkin mereka akan bercerita tentang bagian masing- masing, tentang kecintaannya terhadap sesuatu, juga tentang esensi dari keduanya.

Kurasa malam hanya sekedar julukan, untuk sebuah saat seusai senja dan sebelum pagi.

Sebuah Esensi.

Dibeberapa malam mungkin sebagian dari kita berfiikir tentang banyak hal. Ketika tidak ada teman yang dirasa asyik untuk diajak ngobrol. Atau ketika saat itu memang lagi gak ada bahan untuk dijadikan obrolan, atau mungkin karena teman satu kamar pergi entah kemana. Dan sebagai ganti sepi, saatnya menikmati kopi berikut biskuit yang sudah dibeli sore tadi.

Terasa enggan bercerita tentang banyak hal. Ketika apa yang dilakukan hanya tentang awang- awang. Tak ada yang terasa nyata dan pernah menjadi nyata. Bukan tentang pengkhayal yang mahir melakukan tugasnya, bukan juga tentang penyair yang "asal jeplak" saja orang- orang akan percaya dan mengamini opininya. Tapi, mungkin saja ini hanya tentang waktu yang tepat. Dimana, sipapun nantinya yang akan tampil, meski itu bukanlah kita, kita tetap harus menerima dengan sikap, bukan dengan hati. Karena kita yang sekarang masih sama seperti yang dulu. Dan tetap saja hati tidak bisa dibohongi.

Disinilah kita belajar sebuah esensi. Esensi sebuah pertemanan. Teman mungkin akan datang dan pergi. Akan baik dan kadang menjengkelkan. Sesukanya meledek dan kadang penuh perhatian. Bukan sebuah penilaian yang membuat pertemanan menjadi utuh, tapi bagaimana kitalah yang membuatnya. Karena esensi sebuah pertemanan adalah tentang saling menghargai.

Dan esensi lainnya, mugnkin cinta bisa pergi kapan saja. Meninggalkan dan ditinggalkan. Merasa memiliki dan kadang kehilangan. Terabaikan dan kadang penuh perhatian. Senyum yang mengembang juga cemberut yang mengerucut. Berpegangan tangan dan kadang saling melepaskan. Karena esensi mencintai  adalah saling memiliki. Menggenapi yang masih kurang. Membuat baik apapun yang masih berantakan.

Malam semakin naik pada periodenya. Dimana beberapa makhluk akan membutuhkan lagi secangkir kopi tambahan untuk melakukan tugasnya. Bukan untuk membasmi kejahatan yang mungkin akan berlangsung malam ini. Karena kita bukanlah Superman. Kita hanya lupa. Atau kita memang tak perlu menunjukkan siapa kita sebenarnya.

Wednesday, 15 February 2017

Pierce

Biasanya malam seperti halnya dengan bahasa. Disana kita bisa menemukan banyak sekali susunannya. Dari sekedar bertanya kabar, sampai bahasan tentang perasaan yang ujungnya seperti angin yang bertiup. Pelan, seperti cerita yang sedang berlangsung. Seperti cerita yang biasa saja dan akan berakhir seperti yang seharusnya. Karena siapapun kita, kita hanyalah manusia yang berjalan diatas skenario.

Mungkin disini kita bisa berhenti. Bukan didepan lampu merah atau ketika kita sampai di jalan buntu. Mungkin dibanyaknya persimpangan akan membuat kita berhenti sejenak untuk kembali melihat ke belakang. Mempelajari lagi hal yang terasa tidak baik. Bahwa kita meyakini hal yang memang harus diyakini. Seperti agama yang wajar, harapan untuk masa depan, dan apapun itu.

Sedikit peregangan untuk awal yang terkesan menggebu mungkin akan mencairkan sedikit suasana. Sambil minum kopi, cemilan dan beberapa musik mungkin cocok. Di tengah cuaca yang memang paling asyik untuk berkumpul dengan keluarga. Apapun, meski kadang tak saling bicara, keluarga itu selalu menenangkan.

Lalu, adakah hal yang bisa dibantu ketika malam hanya berisi tentang lelah dengan kesibukan yang ada. Satu- satunya yang bisa dilakukan adalah tidak melakukan apapun. Sebisa mungkin untuk tidak terjebak dalam nuansa yang sudah pernah. Karena sepertinya kita mengerti bahwa hal itu tidak penting. Terasa tidak penting karena itu hanya tentang keegoisan masing- masing. Perasaan ingin dimengerti dan tidak ingin ada yang mengerti. Dan dalam perjalanannya, kita sebenarnya sedang melawan diri kita sendiri. Kita sendiri yang melawan keyakinan yang pernah kita buat. Yang pada akhirnya itu tidak akan menghancurkannya, itu justru membuatnya semakin kuat. Believe?

Sedikit tentang apa- apa yang sudah terjadi, yang belum terjadi dan yang tidak akan pernah terjadi. Sebenarnya kita bisa bersyukur untuk hal yang sudah terjadi, berdoa untuk hal yang belum terjadi dan mengihklaskan hal yang tidak akan pernah terjadi. Percaya bahwa itu adalah skenario terbaik. Tidak perlu bertanya apalagi berdebat. Karena memang dari awal kita bukanlah siapa- siapa. Kita mungkin hanya manusia yang banyak maunya.

Terimakasih.
Terimakasih untuk waktunya,

Tuesday, 10 January 2017

T a n y a

Lama sekali waktu menyita sebuah perhatian. Beberapa ada yang hilang, dan beberapa ada yang baru datang, dan ada lagi orang lama yang kembali. Tinggal menunggu waktu, bahwa hidup ini hanya tentang sedikit banyak kehilangan.

Apa yang bisa kita tunjukkan pada seorang yang tak pernah kelihatan batang hidungnya? Yaa, sedikit cubitan kecil untuk siapapun mungkin akan membangunkannya dari lamunan panjang. Atau kalau tidak, satu guyuran penuh air satu baskom akan membangunkannya dari tidur. Dan kembali menjadi realistis.

Beberapa bulan ini terasa penuh. Kesibukan seperti di sebuah pesta, dengan ditemani orang- orang baru dan beberapa orang alay nan banyak drama. Dan wow, apa yang mungkin bisa kita ambil dari itu semua? Nothing. Tidak ada karena kita tidak pernah bisa masuk di hidup sesorang. Tapi, ada yang bisa kita pelajari bahwa menjadi sangat tidak berguna ketika siapa saja mulai mencari kekurangan orang lain dan membicarakan dibelakang.

Adakalanya malam di negeri orang terasa membosankan. Bahkan siang pun juga demikian.

Oiya, sebenarnya ada hal yang sangat mengganggu akhir- akhir ini.
Satu pertanyaan. Satu saja.
"Benar atau tidak sih apa yang kita lakukan ini?"

Dan kembali lagi, waktu yang akan menjawab pertanyaan itu?


Saturday, 30 July 2016

Silence Word

Sejak kapan kita memulai ini? Sajak semu yang bercerita tentang malam. Tentang sebuah cerita haru seusai menunggu. Tentang beberapa perasaan ganjil yang tak bisa kau terjemahkan melalui rangkaian kata. Tentang cerita dimana kau hanya diam, melamun di beberapa jam sebelum kau tidur. Aku ada beberapa langkah dibelakangmu sebelum kau terpeleset. Yang sebenarnya hanya untuk memastikan kau bisa bangkit lagi setelah itu. Dan aku bisa berbalik arah dan meninggalkan.

Seharusnya tak ada yang perlu dijelaskan. Seberapa pekat malam mengurungmu dalam diam. Akan ada waktunya ketika malam hanya tentang beberapa buah lagu dan menunggu. Kita sama- sama pernah menjadi aktor dikehidupan kita masing- masing. Berpura- pura menjadi teman yang supel dan sok mencairkan suasana ketika tak ada sebuah obrolan. Kita pernah sama- sama melalui itu, dan sama- sama pernah terjebak dalam pusarannya. Dan ketika kita berfikir apa ini akan terus seperti ini, jawabannya adalah tidak. Kita tak bisa terus berjalan ditempat. Kemudian waktu berjalan sangat cepat. Seperti siput yang bergegas mencari makan siang, lalu apa yang akan terjadi dengan kita yang masih seperti ini. Waktu tak akan pernah bisa diulang kan? Sedang harapan yang masih banyak tertinggal dibelakang.

Tiga jam dari sekarang, dan aku masih belum mendapatkan kopiku. Ohh. Seharusnya sudah ada yang mengantarkan segelas besar es kopi pesananku. Atau aku tadi lupa memesannya? Penjual itu bukan peramal yang bisa tahu isi hati seseorang.

Ada yang masih harus disimpan disini. Diantara malam yang diam, tanpa ada sepatah kata pun yang keluar. Kita bisa mempertanyakan perihal kenapa ataupun mengapa, seharusnya. Mengungkapkan kata terdalam sebagai ganti perasaan yang hilang. Atau hanya sekedar bertanya kabar lalu berlanjut ke obrolan ringan menjelang tengah malam, mungkin. Dan, apakah selanjutnya akan sama kejadiannya? Atau akan ada cerita lain dari balik layar yang menunggu untuk diangkat ulang?

Tentang sebuah kata yang diam, yang tak seorang pun tahu dan mendengar? Apa kabar?



Wednesday, 29 June 2016

Liar

Mengulangi lagi ke jam- jam yang paling membosankan. Tapi kadang itu yang selalu mempertemukan kita disini. Di dunia yang seharusnya tak perlu diseriusi ataupun dianggap serius. Mungkin kita sedang terjebak dalam tumpukan sampah permasalahan sehari- hari. Atau kita yang memang tidak pernah memiliki apapun untuk disibuki. Sekarang, kita sama- sama mencari pelarian. Kita mungkin sama- sama berlari.

Apa kabar sesekali menjadi sapaan ketika teman lama mendadak muncul di timeline kita. Mencari tahu tentang kesibukan apa yang dilakoni sekarang, atau sudah berapa anak yang harus diperlukan. Ini penting untuk sekedar mencairkan kebekuan karena lama tak pernah bertemu dan bertamu. Kesibukan memisahkan insan yang pernah berteman. Meski sesekali waktu bertukar sapa lewat aplikasi chating yang tinggal pilih saja. Semuanya bisa berjalan seperti semestinya, kita dengan kesibukan kita masing masing.

Lalu adakah waktu yang kita buang percuma?
Yang katanya akan serius untuk cita- cita yang diingini. Apakah dalam waktumu, kesibukan begitu menyita waktumu sampai- sampai kau tak lagi memiliki kuasa atas itu. Apa isi kepalamu tak sama lagi dengan yang dua tahun lalu atau beberapa tahun lalu? Apa yang begitu mengganggu isi kepalamu? Adakah uang disana? Atau teman yang tidak melakukan apa- apa? Atau, karena tidak ada apa- apa sehingga itu membingungkanmu untuk kembali kejalan?

Sekali lagi, kosong ini sangat menganggu. Seperti lolongan anjing yang sangat berisik. Seperti petasan- petasan yang meledak. Tapi bukan itu, bukan tentang kebisingan yang memekakan telinga. Tapi tentang sebuah kosong yang kita tidak tahu apa- apa didalamnya. Kosong yang benar- benar kosong. Mungkin seperti itu. Ah, tidak. Mungkin tidak. Tidak ada yang tahu. Dan pura- puralah tidak tahu. Begitu lebih baik. Daripada menjadi sok tahu tapi tidak benar- benar tahu.

Kalau ada yang nanya, apa yang kau lakukan disini? Kita boleh menjawab "berbohong".






Monday, 30 May 2016

No Nothing!

Serupa ketika kita tidak bisa melukis hal yang sama dua kali. Kita mungkin orang yang selalu berubah setiap harinya. Kemarin, ketika seseorang menyapamu dengan riang, kaupun menyambutnya dengan riang, ditambah gembira pula. Tapi, hari ini semua berubah. Bukan karena Negara Api menyerang, tapi, ini karena kita memang selalu berubah.

Bagaiman kalau kita berusaha menjadi orang yang sama setiap hari?
Menolak semua ajakan teman untuk sekedar ngopi diluar, menjadi orang yang cuma diam di lingkungan sekitar, menjadi orang yang pura- pura tidak tahu apapun yang dibicarakan orang. Mudahnya, kita mencoba membatasi diri untuk tidak melakukan hal yang sudah sering  dilakukan. Efeknya, tidak membosankan.

Berupaya untuk mengejar hal yang tidak pasti, beberapa orang sudah lelah, dan yang yang lainnya sudah menyerah. Sedangkan beberapa termasuk lelah dan hampir menyerah. Pasrah tanpa menyerah dengan menikmati apapun yang kita punya dan mensyukurinya. Ada kopi ataupun tidak. Ada teman ataupun tidak. Ada uang ataupun tidak. Ada paketan ataupun tidak. Detik tetap berhitung sesuai kronologi. Kewajiban tetap berjalan diiringi tanggung jawab, pas dibelakangnya.

Masih mampukah kita menjadi yang sama setiap hari?
Mencintai apapun tanpa pernah berubah. Menjadi taat berkewajiban dan tak pernah berubah. Menjadi baik tanpa pernah berhenti berbenah.

Sial memang, aku bosan dengan kosong ini.

Saturday, 9 April 2016

Apa yang mungkin harus dilakukan?


Bagaimana jika kita bisa mengetahui masa depan?
Sebagai kompensasi atau sebuah anugrah. Rasanya kita tidak akan bisa tenang untuk sekedar minum kopi di sore hari. Karena kita tahu, setelah usia yang berlanjut nantinya, lambung kita mungkin akan membutuhkan perlakuan khusus. Kita mungkin tidak akan nyaman menikmati keceriaan kecil selepas pencapaian hasil. Karena kita sudah keburu tahu bahwa akan ada hal yang lebih sulit yang akan kita hadapai nantinya. Dan sedikit mengejutkan untuk kita tahu seberapa lama kita menikmati apa saja yang kita punya, sebelum kita tidak memiliki waktu untuk itu.

Menarik nafas panjang dan perlahan, sedikit memberi jeda untuk selanjutnya mengeluarkannya juga dengan perlahan dan sok elegant. Rasanya sudah bukan waktunya untuk malakukan hal bodoh macam itu.

Bagaiman jika kita merasa tahu masa depan?
Sebagai wujud ekspresi kita terhadap ketakutan yang kita hadapai. Siapa saja yang merasa sedang sakit parah dan merasa tidak ada harapan untuk kembali normal. Mungkin kita merasa tahu bahwa kita akan berakhir disini. Dan apa yang mungkin harus dilakukan?
Sebuah pertanyaan mungkin wujud dari perasaan takut. Tapi itu juga bukti bahwa ini masih mungkin menjadikan harapan. Apa yang mungkin harus dilakukan? Memperbanyak amal baik dan meningkatkan keimanan kah, mencari ma'af dari semua orang yang pernah ditemui, segera mengucap cinta dengan gebetan yang menganggu pikiran, atau sekedar mengucap satu patah kata untuk sekedar perpisahan? Oohh.

Hari- hari berlalu, apa yang sudah kita tinggalkan dibelakang?
Melihat ke jauh dimasa lalu, kita mungkin akan melihat kita sebagai sebuah kesalahan. Atau mungkin kita bisa saja melupakannya dan menganggapnya seperti ampas kopi. Dan kita bisa membuangnya sebelum menuangkan lagi bubuk kopi yang baru. Atau memang kita yang tidak pintar membuat perumpamaan tentang kopi.

Biarlah, biarlah kopi tetap hitam, pekat, dan gelap. Seperti masa depan itu.

Tuesday, 22 March 2016

Seseorang Menunggu Waktu

Seseorang menunggu waktu.
Disela- sela waktu yang pernah menjadi beku, kepikunan, keluguan, keagungan sebuah harapan pernah menjadi hal yang mengagumkan. Memutar lagu kesukaan sambil ditemani secangkir minuman hangat di kala petang sudahlah sangat berharga untuk bisa dinikmati. Beberapa menambahnya dengan membaca buku, berbincang ringan kalo kebetulan lagi ada teman yang tak sengaja datang, dan sendirian.

Siapapun mungkin pernah berharap untuk tidak memiliki satu impianpun. Kalupun tidak ada, aku akan menjadi satu- satunya orang yang seperti itu, berharap untuk tidak memiliki impian.

Seseorang menunggu waktu?
Bersama seorang lainnya yang juga sama. Diantara dinding- dinding yang tak begitu kokoh. Diantara ruas- ruas sela jari yang sedang bermain gitar. Diantara sebuah kerumunan yang sedang membicarakan gosip terhangat. Seseorang selalu memikirkan dirinya dan impiannya. Keraguan dan keyakinan datang bergantian membangun dan menghancurkan. Semua bertaut di wajah- wajah yang pernah aku temukan. Di senyum- senyum sangar para pelancong. Disetiap tetesan keringat yang membaur dengan hasil yang harus disyukuri. Kemana arah angin meniup uap kopi yang kau tunggu dingin itu?

Seseorang menunggu waktu.
Berteman dengan harapan yang sebenarnya menyudutkan. Sementara orang lain lebih santai karena tak pernah memikirkan tentang impiannya.

Friday, 19 February 2016

hubungan

Semua subject sudah pernah dipakai dalam setiap usaha. Melakoni adegan- adegan konyol di sela- sela pesan yang akan terkirim, atau ketika tersenyum dan berkata "hai" ketika bertemu dengan dia, seorang yang mengisi waktu kita ketika hendak beranjak tidur. Kita sedang kasmaran dengan orang yang sama, dan disela- sela waktu yang luang, apa kita pernah saling memikirkan?

Beberapa minggu berlalu dan kita mulai saling mengenal. Bahkan entah sengaja atau tidak, sekarang kita memiliki waktu yang relatif sama. Kita sering tak sengaja bertemu di mini market langganan, bertemu di jam- jam senggang di media sosial, dan mengawali basa- basi dengan kata ' hai', dan semua berjalan lancar. Tak ada hambatan, ketika senyum itu menghiasi setiap pertemuan. Kejutan demi kejutan, basa dan basi yang sering terlontar, mata yang tanpa sengaja sering bertukar pandang dan senyuman inipun menjadikan kita menjadi hal konyol yang selalu dirindukan. Kita mungkin saling merindukan.

Tak ada hal sulit jika siapapun memiliki tujuan yang serupa. Tanpa melalui sebuah administrasi yang runyampun, kita akhirnya memutuskan menjalin sebuah hubungan. Kita menganggap bahwa tak ada yang istimewa dari hubungan kita saat ini. Layaknya semua dewasa yang menjalin sebuah hubungan, kita saling mengisi untuk beberapa hal. Kemandirian mengisi waktu luang, memberi prioritas untuk diri sendiri, dan hal lain untuk membuat kita menjadi diri kita sendiri. Hubungan yang tak pernah mengekang, karena kita menyadari, kita adalah kurang lebih warna di bumi, dan orang lain akan datang untuk membuatnya menjadi lebih berwarna. Semua orang berwarna dengan dirinya sendiri, dan kita mempercayai itu.

Waktu terus berjalan, dan siapapun kita, kita memang tak pernah sempurna dengan semua warna milik kita. Kadang ada saja perspektif warna gelap yang muncul ketika kita mencoba memadukan warna kita. Membuat hubungan menjadi muram dan kelabu. Dan kadang juga, kita mendapat warna yang belum pernah ada sebelumnya ketika kita menyatukan satu warna dari kita. Kita menjadi hal yang membuat kita bahagia sesekali waktu. Dan tak pernah melupakan itu, karena siapapun kita, kita layak bahagia dengan diri kita, kan?

Hari berlalu dan kita masih bisa saling percaya tentang apa yang disebut perasaan. Yang seiring waktu menjadi tumbuh dan semakin kuat ini. Terimakasih untuk warna yang tak sengaja kita ciptakan berdua.

Sekarang aku hanya akan tersenyum.








Thursday, 31 December 2015

An Afterthought

Tahun berganti tahun, bulan berganti bulan, minggu berganti minggu, hari- hari yang tersusun dari hitungan jam, dan waktu yang senantiasa membuat pejalan seperti kita kehilangan "waktu". Kita ini pejalan yang sama- sama perlu saling berpegang tangan, dan juga saling mengingatkan.

Berlari dan terus berlari, mencari dan terus mencari, ketika lelah tak bisa lagi disemangati, menutup muka dengan bantal mungkin adalah sebuah solusi. Menenggelamkan semua beban, mengalirkan keluar semua hal buruk yang kita terima dari dunia luar, dan berakhir dengan mata sembab di pagi harinya adalah sebuah berkah. Matahari tetap bersinar apapun yang terjadi, berapapun jumlah air mata yang keluar semalaman, dan wajah yang masih belum memberikan rona senyum di pagi hari. Dengan ini siapkah kita melawan hari?

Hal yang sama seharusnya tak boleh terulang kembali. Segala macam bentuknya, kita sebagai seorang yang tahu caranya bersikap harus segera bertindak mengatasi situasi ini. Apapun bisa menjadi pembunuh yang mengerikan, kita sama- sama mengetahui itu. Cinta yang berlebihan, dendam yang membara, penyesalan akan hal buruk di masa lalu, kegagalan ketika berekspektasi, kesepian yang sangat sepi, dan apapun itu bisa saja menjadikan kita takut, takut untuk sekedar memulai.

Akhirnya musim berganti. Angin barat bergerak membawa sekumpulan mendung yang siap menghujani bumi. Beberapa sudah siap dengan membawa payung atupun jas hujan. Dan beberapa yang lain mengabaikan pertanda yang selalu mengawali sebuah peristiwa. Alam selalu memberi kita pertanda, dan kadang kita selalu sok tahu untuk beberapa hal. Beberapa dari kita tak ubahnya seperti peramal yang kehabisan kartu. Siapa tahu kan?

Musim hujan masih awal untuk dikatakan akan berhenti. Meski yang kita ketahui, hujan masih agak malu- malu untuk lebih banyak berkontribusi untuk semua yang menanti. Kita mungkin menyukai hujan. Ya, bebrapa puisi, berapa lagu, beberapa dongeng mungkin tercipta ketika hujan. Hujan memang memiliki kekuatan untuk membangkitkan memori seseorang. Kenangan romantis ketika bareng pacar, ketika bermain bola dengan teman sebaya, dan ketika sekedar duduk di teras dengan minuman hangat dan keluarga. Mungkin kita sedang merindukan sebuah kebersamaan. Hanya saja, tidak mudah menemukan ini disaat seperti ini. Disaat beberapa lebih memilih gadget sebagai wahana menjalin kebersamaan. Tidak bisakah kita duduk bersama, disuatu tempat, melihat langit, mendengar angin, dan sedikit candaan tentang perjalanan waktu? Tentang masa lalu dan masa depan? Tidak bisakah? Tidak bisa ya?

 2015 akan segera berlalu dan siapapun akan ceria.




Thursday, 10 December 2015

Nice syndrome

Seseorang di seberang layar handphone mungkin sedang menanti harap kedatangan sebuah pesan baru. Memutar- mutar secara acak smartphone pilihan yang baru dibeli beberapa bulan lalu. Mengecek semua media sosial kenamaan, yang hampir semua lini dimiliki. Facebook, twitter, instagram, bbm, line, wa, linkedIn, and many more kalo masih ada yang kelewat. Adakah sebuah kecemasan yang sering tersirat diantara waktu yang membosankan.

Sebuah Syindrome Media Sosial.

Sebagaian kebutuhan mungkin sudah mulai terabaikan. Kebutuhan untuk hidup berinteraksi nyata dengan teman lain. Saling bertatap muka dengan makna yang sebenarnya. Tidak untuk mencari perhatian diantara banyaknya follower di akun kebanggaan, tidak untuk menebar prasangka ketika kita sedang bermasalah dengan salah satu teman, pacar, keluarga, atau bos besar. Tidak untuk sekedar pamer bahwa kita sedang berada di suatu tempat yang lagi recomended banget untuk dikunjungi. Atau, tidak untuk mendapatkan banyak "like" sebanyak- banyaknya ketika membagikan foto unyu.

Adakah yang harus repot- repot menjadi pahlawan untuk hal yang memang seharusnya terjadi? Kalaupun ada, bersiaplah untuk dinggap aneh, aneh, dan aneh.

Sedikit mengulang hari, mengulang kisah, mengulang- ulang Menu- Pesan- Kembali- Menu- Pesan- Kembali berkali- kali dan sangat lucu untuk diamati. Merefresh Beranda dengan semangat karena sebuah harapan adanya status terbaru dari pacar, teman pacar, gebetan, ataupun mantan terbaik. Ya, kita sedang bersembunyi dibalik layar masing- masing untuk sekedar tau apa yang terjadi dengan teman kita.

Lalu, ada berita baik yang tidak boleh kita sembunyikan. Bahwa siapapun kita, mungkin saja bisa dipertemukan dengan teman lama berkat media sosial. Menemukan jodoh melaluinya yang sudah banyak bukti disekitar kita. Menemukan pacar baru setelah sekian tahun menjomblo, atau saling berbagi ide di forum- forum diskusi. Itu membuat syndrome ini terlihat manis. Why? Karena, itu seperti mengumpulkan kembali sesuatu yang sudah lama berserakan. Menyatukan hati yang lama tak pernah bertaut. Manis, kan?

Nice Syndrome. Sebuah syndrome yang terasa manis dan terasa serba salah.

Friday, 4 December 2015

Self Awareness ( Sebuah Seni)

Sebuah abjad pernah menjadi cerita unik. Dalam hijaunya sebuah hubungan pertemanan yang kadang hanya menyisakan sedikit ikatan. Hubungan percintaan yang selalu menjadi hal mengesankan untuk dikenang. Bertemu di waktu tertentu, berbicara jika memang ada perlu, dan sedikit membatasi diri untuk bisa lebih mengenal orang lain. Apakah seni yang yang sedang kita maksudkan?

Sebuah seni pertahanan diri, sebuah sikap aksi- reaksi di antara sebuah hubungan.

Dalam keseharian kita yang sering kali itu- itu saja, mungkin kita pernah bosan dengan semua "lelakon urep" yang kita jalani sehari- hari. Seperti ngopi di pagi hari yang menjadi kebiasaan, mendengar lagu yang seolah sangat tidak mungkin kita tinggalkan, atau sekedar menanti pesan dari sang gebetan yang kadang menjadi moment paling mendebarkan. Dan tanpa sadar, kebiasaan- kebiasaan itu sudah menjadi candu untuk kita sendiri. Pagi hari tanpa kopi alamat pusing di siang hari. Seharian tanpa lagu kesukaan adalah hal yang tidak mungkin, dan sehari tanpa pesan dari gebetan adalah kiamat kecil- kecilan. Belum lagi untuk orang- orang yang hobi merokok, hobi olahraga, hobi (ma'af) ngomongin orang, dan hobi memata- matai mantan.

Berangkat dari sebuah bakat seni, manusia adalah makhluk yang keren. Kenapa? Karena tanpa kita sadari, kita sebenarnya sedang tidak sadar. Tidak sadar kalo sedikit demi sedikit kafein mengerjai otak kita untuk menagihnya lagi besok pagi, musik juga sama, dan rasa kangen dengan gebetan juga tak jauh berbeda. Nikotin yang malah membuat rentang waktu ketagihan yang semakin singkat. Kita sering tidak sadar untuk beberapa halaman yang sudah terlewat.

Berjalan lagi dengan masih berpegang dengan nilai seni, kita sebenarnya mempunya sebuah seni yang sangat keren untuk dilewatkan. Sebuah seni tentang pengendalian diri. Jadi sebelum kopi atau musikmenjadi candu untuk diri, kita perlu meninggalkannya sejenak untuk beberapa hari. Sebuah seni yang mungkin akan sulit diterapkan jika itu tentang perasaan. Jika kita menyukai seseorang, kita pasti akan kesulitan untuk sekedar meninggalkannya barang sehari.

Berbeda dengan kopi, musik, nikotin, ganja dan semua bahan candu di dunia ini. Karena seni itu bersumber dari perasaan, seni tidak akan bisa mengendalikan perasaan. Oleh sebab itu, entah kapan awalnya, sekarang kita bisa mendengar lagu, membaca fiksi, menonton drama, melihat lukisan yang megah dan membuat kita kagum. Ya, seni itu adalah wujud dari perasaan manusia.

<script src="http://kumpulblogger.com/scahor.php?b=234001" type="text/javascript"></script>

Thursday, 26 November 2015

Etc.

Perjalanan masih panjang bagi sebagian orang. Pergi di akhir pekan, jalan- jalan malam atau hanya sekedar nongkrong bareng, banyak bercerita dengan teman yang pandai menyimpan rahasia. Adakah teman yang akan menemani kita? Kita sama- sama terjebak dalam diri kita sendiri. Kepercayaan yang menurut kita memang layak dipertahankan. Begitukan?

Malam masih bergerak, lembut, menyisir gelap di sepanjang perjalanan ini. Membuat sedikit bosan karena kita yang tak pernah menemukan apapun untuk sekedar merasa puas dengan diri kita. Atau kita hanya sedang kelelahan? Di titik ini, kita merasa kita adalah hal gagal yang tak perlu diceritakan. Kita banyak mengkoleksi cerita gagal tentang diri kita sendiri, dan menyimpannya agar tidak terlihat.

Kita mendapati diri di tengah hal lucu berupa keputusasaan. Yang sebenarnya, kita sendiri tidak tau apa kita layak untuk putus asa. Salah satu syarat seorang itu boleh putus asa adalah ketika dia sudah tidak mempunyai apapun untuk berjuang. Dan kita masih mempuyai semua yang dibutuhkan untuk melanjutkan perjalanan. Semangat, dan apapun itu kita masih memilikinya. Teman yang siap melucu ketika kita sedih, teman yang akan rela mentraktir kopi ketika kita sedang bokek, teman yang tidak akan membiarkan kita tertawa sendirian nanti.

Pernah di malam- malam yang bosan, aku melamunkan banyak hal tentang masa depan. Tentang rumah idaman ku nanti, tentang pekerjaan apa yang menghidupi ku nanti, tentang siapa pendampingku, tentang pergi traveling yang tak pernah membuatku bosan meski menghabiskan banyak uang, tentang menjalani hari- hari tua ku nanti. Rasanya sangat lucu ketika membayangkan itu semua. Meski sekarang aku lebih menyukai kesendirianku, aku, berharap hal baik untuk diriku nantinya. Dan kenyataannya, aku malu menuliskan harapanku disini.

Aku berharap, aku bisa berguna untuk orang lain, mungkin tidak secara langsung, bahkan aku tidak ingin terlihat karena aku tidak suka meninggalkan jejak di di kehidupan siapapun. Aku takut untuk sekedar bilang "aku menyukaimu" karena aku takut orang menyukaiku. Aku takut untuk sekedar menawarkan bantuan ketika melihat orang sedikit kerepotan karena aku tidak suka merepotkan orang orang lain meski aku sedang sangat kerepotan. Mungkin aku takut pada sebuah kepercayaan, atau mungkin aku takut untuk menjadi manusia normal yang berperasaan. Jelasnya, aku takut untuk menjadi makhluk hidup.

Hari berganti, dan kita sedang mencari cerita untuk esok hari.



Saturday, 14 November 2015

Relationship

Kelihatannya akan ada banyak kesenangan yang hadir di bulan ini. Para pecinta hujan akan senantiasa menanti dengan harap adanya hujuan. Para petani bisa segera bercocok tanam di lahan mereka. Para penjual jas hujan dan payung unyu akan banyak pembeli. Dan para jomblo akan meratapi nasib di pojok kamar masing- masing. Interesting.

Ya, beberapa anggapan bisa saja dengan lincah mengucur dari lidah beberapa orang. Mulai dari perubahan sikap yang terjadi, perubahan iklim di bumi pertiwi, perubahan rindu menjadi sekedar basa- basi, atau perubahan selera humor ketika kita mulai bosan. Orang- orang akan banyak beradu argumen untuk sekedar mengisi waktu luang di tempat tongkrongan, menunggu kopi menjadi tak tersisa kemudian memesannya lagi, dan sambil mencari siapa yang paling betah ngomong kesana kemari. Seperti sebuah perlombaan.

Sebuah hubungan.
Kita dan keseharian sering sekali mempertemukan dengan orang- orang baru. Menjalani sebuah hubungan pertemanan yang sedikit banyak memberi kita hal untuk selalu mengerti dan mempelajari. Mulai dari kebiasaan yang kita toleransi, prinsip hidup yang harus kita hormati, sikap dan sifat yang perlu kita ketahui. Dan sebagai seorang penjalin hubungan yang baik, kita tak perlu mempermasalahkan kekurangan orang. Tidak mengeluhkan teman yang selalu terlambat datang, tidak mengeluhkan teman yang selalu minta dibayarin ngopi, tidak mengeluhkan teman yang selalu ngomong kesana- kemari dan yang paling penting tidak ngomong dibelakang.

Menjalani hubungan yang baik itu gampang- gampang susah. Kadang ada orang yang hubungannya dengan orang lain baik- baik saja tetapi dengan keluarganya gagal. Atau sebaliknya. Ada juga orang yang berhasil menjalani hubungan yang baik dengan semua lingkup sosialnya. Atau juga ada orang yang sebaliknya. Dan ada- ada saja memang.

Intinya sih, kalo masih ingin menjaga hubungan baik dengan lingkup sosial disekitar kita, sebisa mungkin jangan suka ngomongin teman lain. Gak baik lho. Untuk orang- orang yang sudah bisa mikir pasti bakal menjauh dari orang- orang yang kayak gini. He'em, yang suka ngomongin orang lain. Salah- salah malah kita sendiri nanti yang diomongin, kan gak banget.

Ya udah. Dari pada ngomongin temen sendiri lebih baik ngomongin semut, atau kambing, atau sapi, atau kura- kura, kan lebih keren. Gitu aja sih.

Wednesday, 28 October 2015

Peran

Untuk kali ini, kita kembali saling memutar waktu. Perlahan tapi pasti, kita akan saling menjauh untuk sebuah misi, tapi perlahan kita akan lebih dekat dengan sesorang yang memang kita inginkan. Apa yang mungkin akan tersisa di musim yang segera berakhir ini?

Kita bisa mengungkap banyak hal yang kita inginkan. Tentang kesenangan ketika mendapat gajian, dapat nilai bagus, atau menang dalam suatu pertandingan adu gengsi. Tentang kesedihan ketika di putus pacar, dicuekin sesama teman, atau perihal pesan yang tidak dibalas. Tentang ketakutan ketika lupa mengerjakan PR, melewati gang angker, atau ketika kita dibentak orang yang tidak kita kenal. Atau , kita hanya perlu menyimpannya sendiri.

Kita tidak bisa menjadi egois dan tidak memikirkan siapapun, teman.

Kita menunggu musim yang akan berganti dan sepertinya ada dari kita yang sedang menjalani peran yang dipilih. Merekayasa sesuatu yang memang perlu diubah. Kebiasaan yang sudah lama tercipta, kejengahan antar sesama pelaku yang tanpa sengaja terbentuk, menjadikan ini menjadi buruk untuk tetap dilakukan berulang- ulang. Dan kita hanya sebuah anggapan oleh orang lain? Sedekat itukah kita dengan diri kita? Tentu tidak. Kita bisa menjadi orang lain dari apa yang dikatakan orang.

Rekayasa sosial. Kita bisa membuat, memilih dan menjalankan dengan konsisten peran unik diri kita didalam sebuah hubungan. Selamat menikmati peran.




Monday, 21 September 2015

Kita

Sebuah perumpamaan yang biasa didapat dalam gurauan tetangga, kadang terasa sangat menyebalkan. Misalnya rambut lurusmu yang lebih dikira mi lidi, atau rambut keritingmu yang pasti akan dikira mi instan sachetan. Apalagi mereka yang cuma ikut- ikutan. Rasanya pengen sekali mengirim mereka kuliah ke luar negeri, biar pinter.

Sedikit bernegosiasi tentang menjadi apa kita nanti, seharusnya sudah dari sekarang kita membuat pilihan yang matang perihal pashion atau pekerjaan. Kamu yang hobi makan, kamu yang hobi musik, kamu yang suka ngopi, kamu yang suka main komputer, kamu yang suka tulis menulis, kamu yang suka ngelukis, kamu yang suka berkeringat, kamu yang suka bola, dan kamu yang suka diam- diam merencanakan sesuatu yang besar. Yah, apapun kesukaanmu itu.

Disela- sela pelajaran dijam- jam akhir menjelang pulang, mengantuk adalah kegiatan yang sangat tak bisa duragukan potensinya. Bahkan, seberapa kuat kita menahannya, tetap saja kita bisa tertidur. Beruntung kalu guru di depan bisa berkompromi, kalau tidak, selamat menerima kado dari guru itu.

Kita, berjalan. Kita, berbicara. Kita, beraktifitas seperti biasa. Tapi, kenapa dengan ini. Tidakkah bisa kita untuk tidak saling menertawakan keseriusan? Membuatnya menjadi sedikit mudah dan bisa segera direncanakan? Saling meragukan. Kenapa tidak kita saling meyakini bahwa ini memang sudah digariskan? Apa perasaan ini? Biasakah kita tidak usah mempertanyakan dan menjalaninya saja?

Berbuat semau dan sebisa yang kita bisa, kita tetap harus mempertanggungjawabkan itu nanti. Disela- sela tulisan yang kita tulis, diantara pertama dan kedua, dintara proses yang selalu butuh waktu, kita hanya akan saling melukai.


Wednesday, 16 September 2015

Wah, selamat ya,

Selamat untuk siapapun yang sudah mengikat janji suci, sepertinya akan banyak acara yang akan menyenangkan ya.

Sedikit menengok kebelakang mengenai persiapan yang begitu rumit dan melelahkan. Mulai dari mendaftarka diri ke KUA terdekat, memilih baju terbaik untuk acara terbaik, membuat undangan unutk teman- teman nun jauh disana, sampai gurauan dari tetangga yang kadang membuat kita mendesah pasrah.

Bukankah itu menyenangkan? Setidaknya, untuk urusan yang sering dianggap sakral oleh orang- orang, kamu sudah berhasil melewatinya. Dan kemudian kamu yang sekarang sudah melebihi apa yang kamu harapkan sebelumnya. Menjadi kepala keluarga untuk keluarga kecil, atau menjadi anggota keluarga kecil itu satu- satunya. Sekali lagi, selamat ya.

Dan untuk menambah bumbu romanis diantara kalian berdua, kubuatkan sedikit puisi untuk mengisi hari yang sedang berjalan ini,

"Kita adalah sedikit yang tercipta
untuk sekedar memulai hari yang baru
terbaik untuk selalu berjalan bersama
karena kita yang sekarang adalah kita yang seutuhnya"

ciyyeehhhh...

Saturday, 12 September 2015

School Days

Mengejutkan untuk sebuah pertemuan di awal pekan. Saling melempar dan menangkap senyuman, ditambah sedikit rasa haru dan juga malu- malu. Selamat untuk kalian anak muda yang masih gencar- gencarnya mencari jati diri dan juga tambatan hati.

Disela- sela hari yang kian rumit, sebuah tawaran manggung di acara kecil- kecilan mungkin akan menambah semangat untuk bakat yang lama terpendam. Sedikit latihan mungkin akan membangun kembali kepercayaan diri dalam hal kualitas diri. Akankah ini akan sama seperti acara yang sudah berlalu? Atau sebuah siraman air akan membangunkan mu dari lamunan menjelang petang?

Kita adalah anak muda dan sama- sama pernah berjuang. Untuk mendapatkan teman ketika pertama masuk di sekolah baru, untuk mendapat pacar ataupun untuk mendapatkan nilai terbaik sebisa yang kita bisa. Untuk kesekian- kalinya keringat akan menjadi saksi betapa kita yang muda ini berjuang
untuk hal yang akan kita tertawakan di hari mendatang. Belajar ilmu logaritma yang jelas-jelas tidak ada gunanya sepuluh tahun kedepan. Menghafal rumus fisika yang tidak akan mengubah hidup kita lima belas tahun kedepan. Dan kita yang akan tetap baik- baik saja tanpa mengetahui rumus statistika dan volume bangun ruang dua puluh tahun kedepan. Tidak apa- apa karena kita hanya menjalankan tugas. Kita seorang pelajar yang memang harus belajar di zamannya. Terimaksih untuk tetap bersemangat. Semangat masa muda memang indah untuk tetap disimpan di dada.

Ohh, sedikit memutar waktu dan kembali ke arah yang lebih parah. Sayangnya kita hanya bisa menertawakan mereka dari sini dan saat ini. Teman- teman kita waktu kecil, teman yang memberikan tips bermain catur di sela- sela pelajaran sejarah, teman yang saling memandang selama tahun terakhir di kelas tiga, teman yang berbakat dan dicintai banyak guru, teman yang gendut, teman yang kurus, teman yang selalu dijadikan objek ledekan, teman yang sok jago, teman yang suka ngegame, teman yang pelit. teman yang serius banget, dan teman- teman yang memang tidak kita kenal. Kita cuma bisa menertawakan mereka dari sini. Dari tempat kalian duduk- duduk sambil minum kopi sekarang.

Selamat malam untuk para pejuang, kita hebat dalam hal apapun.