Monday, 30 May 2016

No Nothing!

Serupa ketika kita tidak bisa melukis hal yang sama dua kali. Kita mungkin orang yang selalu berubah setiap harinya. Kemarin, ketika seseorang menyapamu dengan riang, kaupun menyambutnya dengan riang, ditambah gembira pula. Tapi, hari ini semua berubah. Bukan karena Negara Api menyerang, tapi, ini karena kita memang selalu berubah.

Bagaiman kalau kita berusaha menjadi orang yang sama setiap hari?
Menolak semua ajakan teman untuk sekedar ngopi diluar, menjadi orang yang cuma diam di lingkungan sekitar, menjadi orang yang pura- pura tidak tahu apapun yang dibicarakan orang. Mudahnya, kita mencoba membatasi diri untuk tidak melakukan hal yang sudah sering  dilakukan. Efeknya, tidak membosankan.

Berupaya untuk mengejar hal yang tidak pasti, beberapa orang sudah lelah, dan yang yang lainnya sudah menyerah. Sedangkan beberapa termasuk lelah dan hampir menyerah. Pasrah tanpa menyerah dengan menikmati apapun yang kita punya dan mensyukurinya. Ada kopi ataupun tidak. Ada teman ataupun tidak. Ada uang ataupun tidak. Ada paketan ataupun tidak. Detik tetap berhitung sesuai kronologi. Kewajiban tetap berjalan diiringi tanggung jawab, pas dibelakangnya.

Masih mampukah kita menjadi yang sama setiap hari?
Mencintai apapun tanpa pernah berubah. Menjadi taat berkewajiban dan tak pernah berubah. Menjadi baik tanpa pernah berhenti berbenah.

Sial memang, aku bosan dengan kosong ini.

Saturday, 9 April 2016

Apa yang mungkin harus dilakukan?


Bagaimana jika kita bisa mengetahui masa depan?
Sebagai kompensasi atau sebuah anugrah. Rasanya kita tidak akan bisa tenang untuk sekedar minum kopi di sore hari. Karena kita tahu, setelah usia yang berlanjut nantinya, lambung kita mungkin akan membutuhkan perlakuan khusus. Kita mungkin tidak akan nyaman menikmati keceriaan kecil selepas pencapaian hasil. Karena kita sudah keburu tahu bahwa akan ada hal yang lebih sulit yang akan kita hadapai nantinya. Dan sedikit mengejutkan untuk kita tahu seberapa lama kita menikmati apa saja yang kita punya, sebelum kita tidak memiliki waktu untuk itu.

Menarik nafas panjang dan perlahan, sedikit memberi jeda untuk selanjutnya mengeluarkannya juga dengan perlahan dan sok elegant. Rasanya sudah bukan waktunya untuk malakukan hal bodoh macam itu.

Bagaiman jika kita merasa tahu masa depan?
Sebagai wujud ekspresi kita terhadap ketakutan yang kita hadapai. Siapa saja yang merasa sedang sakit parah dan merasa tidak ada harapan untuk kembali normal. Mungkin kita merasa tahu bahwa kita akan berakhir disini. Dan apa yang mungkin harus dilakukan?
Sebuah pertanyaan mungkin wujud dari perasaan takut. Tapi itu juga bukti bahwa ini masih mungkin menjadikan harapan. Apa yang mungkin harus dilakukan? Memperbanyak amal baik dan meningkatkan keimanan kah, mencari ma'af dari semua orang yang pernah ditemui, segera mengucap cinta dengan gebetan yang menganggu pikiran, atau sekedar mengucap satu patah kata untuk sekedar perpisahan? Oohh.

Hari- hari berlalu, apa yang sudah kita tinggalkan dibelakang?
Melihat ke jauh dimasa lalu, kita mungkin akan melihat kita sebagai sebuah kesalahan. Atau mungkin kita bisa saja melupakannya dan menganggapnya seperti ampas kopi. Dan kita bisa membuangnya sebelum menuangkan lagi bubuk kopi yang baru. Atau memang kita yang tidak pintar membuat perumpamaan tentang kopi.

Biarlah, biarlah kopi tetap hitam, pekat, dan gelap. Seperti masa depan itu.

Tuesday, 22 March 2016

Seseorang Menunggu Waktu

Seseorang menunggu waktu.
Disela- sela waktu yang pernah menjadi beku, kepikunan, keluguan, keagungan sebuah harapan pernah menjadi hal yang mengagumkan. Memutar lagu kesukaan sambil ditemani secangkir minuman hangat di kala petang sudahlah sangat berharga untuk bisa dinikmati. Beberapa menambahnya dengan membaca buku, berbincang ringan kalo kebetulan lagi ada teman yang tak sengaja datang, dan sendirian.

Siapapun mungkin pernah berharap untuk tidak memiliki satu impianpun. Kalupun tidak ada, aku akan menjadi satu- satunya orang yang seperti itu, berharap untuk tidak memiliki impian.

Seseorang menunggu waktu?
Bersama seorang lainnya yang juga sama. Diantara dinding- dinding yang tak begitu kokoh. Diantara ruas- ruas sela jari yang sedang bermain gitar. Diantara sebuah kerumunan yang sedang membicarakan gosip terhangat. Seseorang selalu memikirkan dirinya dan impiannya. Keraguan dan keyakinan datang bergantian membangun dan menghancurkan. Semua bertaut di wajah- wajah yang pernah aku temukan. Di senyum- senyum sangar para pelancong. Disetiap tetesan keringat yang membaur dengan hasil yang harus disyukuri. Kemana arah angin meniup uap kopi yang kau tunggu dingin itu?

Seseorang menunggu waktu.
Berteman dengan harapan yang sebenarnya menyudutkan. Sementara orang lain lebih santai karena tak pernah memikirkan tentang impiannya.

Friday, 19 February 2016

hubungan

Semua subject sudah pernah dipakai dalam setiap usaha. Melakoni adegan- adegan konyol di sela- sela pesan yang akan terkirim, atau ketika tersenyum dan berkata "hai" ketika bertemu dengan dia, seorang yang mengisi waktu kita ketika hendak beranjak tidur. Kita sedang kasmaran dengan orang yang sama, dan disela- sela waktu yang luang, apa kita pernah saling memikirkan?

Beberapa minggu berlalu dan kita mulai saling mengenal. Bahkan entah sengaja atau tidak, sekarang kita memiliki waktu yang relatif sama. Kita sering tak sengaja bertemu di mini market langganan, bertemu di jam- jam senggang di media sosial, dan mengawali basa- basi dengan kata ' hai', dan semua berjalan lancar. Tak ada hambatan, ketika senyum itu menghiasi setiap pertemuan. Kejutan demi kejutan, basa dan basi yang sering terlontar, mata yang tanpa sengaja sering bertukar pandang dan senyuman inipun menjadikan kita menjadi hal konyol yang selalu dirindukan. Kita mungkin saling merindukan.

Tak ada hal sulit jika siapapun memiliki tujuan yang serupa. Tanpa melalui sebuah administrasi yang runyampun, kita akhirnya memutuskan menjalin sebuah hubungan. Kita menganggap bahwa tak ada yang istimewa dari hubungan kita saat ini. Layaknya semua dewasa yang menjalin sebuah hubungan, kita saling mengisi untuk beberapa hal. Kemandirian mengisi waktu luang, memberi prioritas untuk diri sendiri, dan hal lain untuk membuat kita menjadi diri kita sendiri. Hubungan yang tak pernah mengekang, karena kita menyadari, kita adalah kurang lebih warna di bumi, dan orang lain akan datang untuk membuatnya menjadi lebih berwarna. Semua orang berwarna dengan dirinya sendiri, dan kita mempercayai itu.

Waktu terus berjalan, dan siapapun kita, kita memang tak pernah sempurna dengan semua warna milik kita. Kadang ada saja perspektif warna gelap yang muncul ketika kita mencoba memadukan warna kita. Membuat hubungan menjadi muram dan kelabu. Dan kadang juga, kita mendapat warna yang belum pernah ada sebelumnya ketika kita menyatukan satu warna dari kita. Kita menjadi hal yang membuat kita bahagia sesekali waktu. Dan tak pernah melupakan itu, karena siapapun kita, kita layak bahagia dengan diri kita, kan?

Hari berlalu dan kita masih bisa saling percaya tentang apa yang disebut perasaan. Yang seiring waktu menjadi tumbuh dan semakin kuat ini. Terimakasih untuk warna yang tak sengaja kita ciptakan berdua.

Sekarang aku hanya akan tersenyum.








Thursday, 31 December 2015

An Afterthought

Tahun berganti tahun, bulan berganti bulan, minggu berganti minggu, hari- hari yang tersusun dari hitungan jam, dan waktu yang senantiasa membuat pejalan seperti kita kehilangan "waktu". Kita ini pejalan yang sama- sama perlu saling berpegang tangan, dan juga saling mengingatkan.

Berlari dan terus berlari, mencari dan terus mencari, ketika lelah tak bisa lagi disemangati, menutup muka dengan bantal mungkin adalah sebuah solusi. Menenggelamkan semua beban, mengalirkan keluar semua hal buruk yang kita terima dari dunia luar, dan berakhir dengan mata sembab di pagi harinya adalah sebuah berkah. Matahari tetap bersinar apapun yang terjadi, berapapun jumlah air mata yang keluar semalaman, dan wajah yang masih belum memberikan rona senyum di pagi hari. Dengan ini siapkah kita melawan hari?

Hal yang sama seharusnya tak boleh terulang kembali. Segala macam bentuknya, kita sebagai seorang yang tahu caranya bersikap harus segera bertindak mengatasi situasi ini. Apapun bisa menjadi pembunuh yang mengerikan, kita sama- sama mengetahui itu. Cinta yang berlebihan, dendam yang membara, penyesalan akan hal buruk di masa lalu, kegagalan ketika berekspektasi, kesepian yang sangat sepi, dan apapun itu bisa saja menjadikan kita takut, takut untuk sekedar memulai.

Akhirnya musim berganti. Angin barat bergerak membawa sekumpulan mendung yang siap menghujani bumi. Beberapa sudah siap dengan membawa payung atupun jas hujan. Dan beberapa yang lain mengabaikan pertanda yang selalu mengawali sebuah peristiwa. Alam selalu memberi kita pertanda, dan kadang kita selalu sok tahu untuk beberapa hal. Beberapa dari kita tak ubahnya seperti peramal yang kehabisan kartu. Siapa tahu kan?

Musim hujan masih awal untuk dikatakan akan berhenti. Meski yang kita ketahui, hujan masih agak malu- malu untuk lebih banyak berkontribusi untuk semua yang menanti. Kita mungkin menyukai hujan. Ya, bebrapa puisi, berapa lagu, beberapa dongeng mungkin tercipta ketika hujan. Hujan memang memiliki kekuatan untuk membangkitkan memori seseorang. Kenangan romantis ketika bareng pacar, ketika bermain bola dengan teman sebaya, dan ketika sekedar duduk di teras dengan minuman hangat dan keluarga. Mungkin kita sedang merindukan sebuah kebersamaan. Hanya saja, tidak mudah menemukan ini disaat seperti ini. Disaat beberapa lebih memilih gadget sebagai wahana menjalin kebersamaan. Tidak bisakah kita duduk bersama, disuatu tempat, melihat langit, mendengar angin, dan sedikit candaan tentang perjalanan waktu? Tentang masa lalu dan masa depan? Tidak bisakah? Tidak bisa ya?

 2015 akan segera berlalu dan siapapun akan ceria.




Thursday, 10 December 2015

Nice syndrome

Seseorang di seberang layar handphone mungkin sedang menanti harap kedatangan sebuah pesan baru. Memutar- mutar secara acak smartphone pilihan yang baru dibeli beberapa bulan lalu. Mengecek semua media sosial kenamaan, yang hampir semua lini dimiliki. Facebook, twitter, instagram, bbm, line, wa, linkedIn, and many more kalo masih ada yang kelewat. Adakah sebuah kecemasan yang sering tersirat diantara waktu yang membosankan.

Sebuah Syindrome Media Sosial.

Sebagaian kebutuhan mungkin sudah mulai terabaikan. Kebutuhan untuk hidup berinteraksi nyata dengan teman lain. Saling bertatap muka dengan makna yang sebenarnya. Tidak untuk mencari perhatian diantara banyaknya follower di akun kebanggaan, tidak untuk menebar prasangka ketika kita sedang bermasalah dengan salah satu teman, pacar, keluarga, atau bos besar. Tidak untuk sekedar pamer bahwa kita sedang berada di suatu tempat yang lagi recomended banget untuk dikunjungi. Atau, tidak untuk mendapatkan banyak "like" sebanyak- banyaknya ketika membagikan foto unyu.

Adakah yang harus repot- repot menjadi pahlawan untuk hal yang memang seharusnya terjadi? Kalaupun ada, bersiaplah untuk dinggap aneh, aneh, dan aneh.

Sedikit mengulang hari, mengulang kisah, mengulang- ulang Menu- Pesan- Kembali- Menu- Pesan- Kembali berkali- kali dan sangat lucu untuk diamati. Merefresh Beranda dengan semangat karena sebuah harapan adanya status terbaru dari pacar, teman pacar, gebetan, ataupun mantan terbaik. Ya, kita sedang bersembunyi dibalik layar masing- masing untuk sekedar tau apa yang terjadi dengan teman kita.

Lalu, ada berita baik yang tidak boleh kita sembunyikan. Bahwa siapapun kita, mungkin saja bisa dipertemukan dengan teman lama berkat media sosial. Menemukan jodoh melaluinya yang sudah banyak bukti disekitar kita. Menemukan pacar baru setelah sekian tahun menjomblo, atau saling berbagi ide di forum- forum diskusi. Itu membuat syndrome ini terlihat manis. Why? Karena, itu seperti mengumpulkan kembali sesuatu yang sudah lama berserakan. Menyatukan hati yang lama tak pernah bertaut. Manis, kan?

Nice Syndrome. Sebuah syndrome yang terasa manis dan terasa serba salah.

Friday, 4 December 2015

Self Awareness ( Sebuah Seni)

Sebuah abjad pernah menjadi cerita unik. Dalam hijaunya sebuah hubungan pertemanan yang kadang hanya menyisakan sedikit ikatan. Hubungan percintaan yang selalu menjadi hal mengesankan untuk dikenang. Bertemu di waktu tertentu, berbicara jika memang ada perlu, dan sedikit membatasi diri untuk bisa lebih mengenal orang lain. Apakah seni yang yang sedang kita maksudkan?

Sebuah seni pertahanan diri, sebuah sikap aksi- reaksi di antara sebuah hubungan.

Dalam keseharian kita yang sering kali itu- itu saja, mungkin kita pernah bosan dengan semua "lelakon urep" yang kita jalani sehari- hari. Seperti ngopi di pagi hari yang menjadi kebiasaan, mendengar lagu yang seolah sangat tidak mungkin kita tinggalkan, atau sekedar menanti pesan dari sang gebetan yang kadang menjadi moment paling mendebarkan. Dan tanpa sadar, kebiasaan- kebiasaan itu sudah menjadi candu untuk kita sendiri. Pagi hari tanpa kopi alamat pusing di siang hari. Seharian tanpa lagu kesukaan adalah hal yang tidak mungkin, dan sehari tanpa pesan dari gebetan adalah kiamat kecil- kecilan. Belum lagi untuk orang- orang yang hobi merokok, hobi olahraga, hobi (ma'af) ngomongin orang, dan hobi memata- matai mantan.

Berangkat dari sebuah bakat seni, manusia adalah makhluk yang keren. Kenapa? Karena tanpa kita sadari, kita sebenarnya sedang tidak sadar. Tidak sadar kalo sedikit demi sedikit kafein mengerjai otak kita untuk menagihnya lagi besok pagi, musik juga sama, dan rasa kangen dengan gebetan juga tak jauh berbeda. Nikotin yang malah membuat rentang waktu ketagihan yang semakin singkat. Kita sering tidak sadar untuk beberapa halaman yang sudah terlewat.

Berjalan lagi dengan masih berpegang dengan nilai seni, kita sebenarnya mempunya sebuah seni yang sangat keren untuk dilewatkan. Sebuah seni tentang pengendalian diri. Jadi sebelum kopi atau musikmenjadi candu untuk diri, kita perlu meninggalkannya sejenak untuk beberapa hari. Sebuah seni yang mungkin akan sulit diterapkan jika itu tentang perasaan. Jika kita menyukai seseorang, kita pasti akan kesulitan untuk sekedar meninggalkannya barang sehari.

Berbeda dengan kopi, musik, nikotin, ganja dan semua bahan candu di dunia ini. Karena seni itu bersumber dari perasaan, seni tidak akan bisa mengendalikan perasaan. Oleh sebab itu, entah kapan awalnya, sekarang kita bisa mendengar lagu, membaca fiksi, menonton drama, melihat lukisan yang megah dan membuat kita kagum. Ya, seni itu adalah wujud dari perasaan manusia.

<script src="http://kumpulblogger.com/scahor.php?b=234001" type="text/javascript"></script>