Tuesday, 22 March 2016

Seseorang Menunggu Waktu

Seseorang menunggu waktu.
Disela- sela waktu yang pernah menjadi beku, kepikunan, keluguan, keagungan sebuah harapan pernah menjadi hal yang mengagumkan. Memutar lagu kesukaan sambil ditemani secangkir minuman hangat di kala petang sudahlah sangat berharga untuk bisa dinikmati. Beberapa menambahnya dengan membaca buku, berbincang ringan kalo kebetulan lagi ada teman yang tak sengaja datang, dan sendirian.

Siapapun mungkin pernah berharap untuk tidak memiliki satu impianpun. Kalupun tidak ada, aku akan menjadi satu- satunya orang yang seperti itu, berharap untuk tidak memiliki impian.

Seseorang menunggu waktu?
Bersama seorang lainnya yang juga sama. Diantara dinding- dinding yang tak begitu kokoh. Diantara ruas- ruas sela jari yang sedang bermain gitar. Diantara sebuah kerumunan yang sedang membicarakan gosip terhangat. Seseorang selalu memikirkan dirinya dan impiannya. Keraguan dan keyakinan datang bergantian membangun dan menghancurkan. Semua bertaut di wajah- wajah yang pernah aku temukan. Di senyum- senyum sangar para pelancong. Disetiap tetesan keringat yang membaur dengan hasil yang harus disyukuri. Kemana arah angin meniup uap kopi yang kau tunggu dingin itu?

Seseorang menunggu waktu.
Berteman dengan harapan yang sebenarnya menyudutkan. Sementara orang lain lebih santai karena tak pernah memikirkan tentang impiannya.

Friday, 19 February 2016

hubungan

Semua subject sudah pernah dipakai dalam setiap usaha. Melakoni adegan- adegan konyol di sela- sela pesan yang akan terkirim, atau ketika tersenyum dan berkata "hai" ketika bertemu dengan dia, seorang yang mengisi waktu kita ketika hendak beranjak tidur. Kita sedang kasmaran dengan orang yang sama, dan disela- sela waktu yang luang, apa kita pernah saling memikirkan?

Beberapa minggu berlalu dan kita mulai saling mengenal. Bahkan entah sengaja atau tidak, sekarang kita memiliki waktu yang relatif sama. Kita sering tak sengaja bertemu di mini market langganan, bertemu di jam- jam senggang di media sosial, dan mengawali basa- basi dengan kata ' hai', dan semua berjalan lancar. Tak ada hambatan, ketika senyum itu menghiasi setiap pertemuan. Kejutan demi kejutan, basa dan basi yang sering terlontar, mata yang tanpa sengaja sering bertukar pandang dan senyuman inipun menjadikan kita menjadi hal konyol yang selalu dirindukan. Kita mungkin saling merindukan.

Tak ada hal sulit jika siapapun memiliki tujuan yang serupa. Tanpa melalui sebuah administrasi yang runyampun, kita akhirnya memutuskan menjalin sebuah hubungan. Kita menganggap bahwa tak ada yang istimewa dari hubungan kita saat ini. Layaknya semua dewasa yang menjalin sebuah hubungan, kita saling mengisi untuk beberapa hal. Kemandirian mengisi waktu luang, memberi prioritas untuk diri sendiri, dan hal lain untuk membuat kita menjadi diri kita sendiri. Hubungan yang tak pernah mengekang, karena kita menyadari, kita adalah kurang lebih warna di bumi, dan orang lain akan datang untuk membuatnya menjadi lebih berwarna. Semua orang berwarna dengan dirinya sendiri, dan kita mempercayai itu.

Waktu terus berjalan, dan siapapun kita, kita memang tak pernah sempurna dengan semua warna milik kita. Kadang ada saja perspektif warna gelap yang muncul ketika kita mencoba memadukan warna kita. Membuat hubungan menjadi muram dan kelabu. Dan kadang juga, kita mendapat warna yang belum pernah ada sebelumnya ketika kita menyatukan satu warna dari kita. Kita menjadi hal yang membuat kita bahagia sesekali waktu. Dan tak pernah melupakan itu, karena siapapun kita, kita layak bahagia dengan diri kita, kan?

Hari berlalu dan kita masih bisa saling percaya tentang apa yang disebut perasaan. Yang seiring waktu menjadi tumbuh dan semakin kuat ini. Terimakasih untuk warna yang tak sengaja kita ciptakan berdua.

Sekarang aku hanya akan tersenyum.








Thursday, 31 December 2015

An Afterthought

Tahun berganti tahun, bulan berganti bulan, minggu berganti minggu, hari- hari yang tersusun dari hitungan jam, dan waktu yang senantiasa membuat pejalan seperti kita kehilangan "waktu". Kita ini pejalan yang sama- sama perlu saling berpegang tangan, dan juga saling mengingatkan.

Berlari dan terus berlari, mencari dan terus mencari, ketika lelah tak bisa lagi disemangati, menutup muka dengan bantal mungkin adalah sebuah solusi. Menenggelamkan semua beban, mengalirkan keluar semua hal buruk yang kita terima dari dunia luar, dan berakhir dengan mata sembab di pagi harinya adalah sebuah berkah. Matahari tetap bersinar apapun yang terjadi, berapapun jumlah air mata yang keluar semalaman, dan wajah yang masih belum memberikan rona senyum di pagi hari. Dengan ini siapkah kita melawan hari?

Hal yang sama seharusnya tak boleh terulang kembali. Segala macam bentuknya, kita sebagai seorang yang tahu caranya bersikap harus segera bertindak mengatasi situasi ini. Apapun bisa menjadi pembunuh yang mengerikan, kita sama- sama mengetahui itu. Cinta yang berlebihan, dendam yang membara, penyesalan akan hal buruk di masa lalu, kegagalan ketika berekspektasi, kesepian yang sangat sepi, dan apapun itu bisa saja menjadikan kita takut, takut untuk sekedar memulai.

Akhirnya musim berganti. Angin barat bergerak membawa sekumpulan mendung yang siap menghujani bumi. Beberapa sudah siap dengan membawa payung atupun jas hujan. Dan beberapa yang lain mengabaikan pertanda yang selalu mengawali sebuah peristiwa. Alam selalu memberi kita pertanda, dan kadang kita selalu sok tahu untuk beberapa hal. Beberapa dari kita tak ubahnya seperti peramal yang kehabisan kartu. Siapa tahu kan?

Musim hujan masih awal untuk dikatakan akan berhenti. Meski yang kita ketahui, hujan masih agak malu- malu untuk lebih banyak berkontribusi untuk semua yang menanti. Kita mungkin menyukai hujan. Ya, bebrapa puisi, berapa lagu, beberapa dongeng mungkin tercipta ketika hujan. Hujan memang memiliki kekuatan untuk membangkitkan memori seseorang. Kenangan romantis ketika bareng pacar, ketika bermain bola dengan teman sebaya, dan ketika sekedar duduk di teras dengan minuman hangat dan keluarga. Mungkin kita sedang merindukan sebuah kebersamaan. Hanya saja, tidak mudah menemukan ini disaat seperti ini. Disaat beberapa lebih memilih gadget sebagai wahana menjalin kebersamaan. Tidak bisakah kita duduk bersama, disuatu tempat, melihat langit, mendengar angin, dan sedikit candaan tentang perjalanan waktu? Tentang masa lalu dan masa depan? Tidak bisakah? Tidak bisa ya?

 2015 akan segera berlalu dan siapapun akan ceria.




Thursday, 10 December 2015

Nice syndrome

Seseorang di seberang layar handphone mungkin sedang menanti harap kedatangan sebuah pesan baru. Memutar- mutar secara acak smartphone pilihan yang baru dibeli beberapa bulan lalu. Mengecek semua media sosial kenamaan, yang hampir semua lini dimiliki. Facebook, twitter, instagram, bbm, line, wa, linkedIn, and many more kalo masih ada yang kelewat. Adakah sebuah kecemasan yang sering tersirat diantara waktu yang membosankan.

Sebuah Syindrome Media Sosial.

Sebagaian kebutuhan mungkin sudah mulai terabaikan. Kebutuhan untuk hidup berinteraksi nyata dengan teman lain. Saling bertatap muka dengan makna yang sebenarnya. Tidak untuk mencari perhatian diantara banyaknya follower di akun kebanggaan, tidak untuk menebar prasangka ketika kita sedang bermasalah dengan salah satu teman, pacar, keluarga, atau bos besar. Tidak untuk sekedar pamer bahwa kita sedang berada di suatu tempat yang lagi recomended banget untuk dikunjungi. Atau, tidak untuk mendapatkan banyak "like" sebanyak- banyaknya ketika membagikan foto unyu.

Adakah yang harus repot- repot menjadi pahlawan untuk hal yang memang seharusnya terjadi? Kalaupun ada, bersiaplah untuk dinggap aneh, aneh, dan aneh.

Sedikit mengulang hari, mengulang kisah, mengulang- ulang Menu- Pesan- Kembali- Menu- Pesan- Kembali berkali- kali dan sangat lucu untuk diamati. Merefresh Beranda dengan semangat karena sebuah harapan adanya status terbaru dari pacar, teman pacar, gebetan, ataupun mantan terbaik. Ya, kita sedang bersembunyi dibalik layar masing- masing untuk sekedar tau apa yang terjadi dengan teman kita.

Lalu, ada berita baik yang tidak boleh kita sembunyikan. Bahwa siapapun kita, mungkin saja bisa dipertemukan dengan teman lama berkat media sosial. Menemukan jodoh melaluinya yang sudah banyak bukti disekitar kita. Menemukan pacar baru setelah sekian tahun menjomblo, atau saling berbagi ide di forum- forum diskusi. Itu membuat syndrome ini terlihat manis. Why? Karena, itu seperti mengumpulkan kembali sesuatu yang sudah lama berserakan. Menyatukan hati yang lama tak pernah bertaut. Manis, kan?

Nice Syndrome. Sebuah syndrome yang terasa manis dan terasa serba salah.

Friday, 4 December 2015

Self Awareness ( Sebuah Seni)

Sebuah abjad pernah menjadi cerita unik. Dalam hijaunya sebuah hubungan pertemanan yang kadang hanya menyisakan sedikit ikatan. Hubungan percintaan yang selalu menjadi hal mengesankan untuk dikenang. Bertemu di waktu tertentu, berbicara jika memang ada perlu, dan sedikit membatasi diri untuk bisa lebih mengenal orang lain. Apakah seni yang yang sedang kita maksudkan?

Sebuah seni pertahanan diri, sebuah sikap aksi- reaksi di antara sebuah hubungan.

Dalam keseharian kita yang sering kali itu- itu saja, mungkin kita pernah bosan dengan semua "lelakon urep" yang kita jalani sehari- hari. Seperti ngopi di pagi hari yang menjadi kebiasaan, mendengar lagu yang seolah sangat tidak mungkin kita tinggalkan, atau sekedar menanti pesan dari sang gebetan yang kadang menjadi moment paling mendebarkan. Dan tanpa sadar, kebiasaan- kebiasaan itu sudah menjadi candu untuk kita sendiri. Pagi hari tanpa kopi alamat pusing di siang hari. Seharian tanpa lagu kesukaan adalah hal yang tidak mungkin, dan sehari tanpa pesan dari gebetan adalah kiamat kecil- kecilan. Belum lagi untuk orang- orang yang hobi merokok, hobi olahraga, hobi (ma'af) ngomongin orang, dan hobi memata- matai mantan.

Berangkat dari sebuah bakat seni, manusia adalah makhluk yang keren. Kenapa? Karena tanpa kita sadari, kita sebenarnya sedang tidak sadar. Tidak sadar kalo sedikit demi sedikit kafein mengerjai otak kita untuk menagihnya lagi besok pagi, musik juga sama, dan rasa kangen dengan gebetan juga tak jauh berbeda. Nikotin yang malah membuat rentang waktu ketagihan yang semakin singkat. Kita sering tidak sadar untuk beberapa halaman yang sudah terlewat.

Berjalan lagi dengan masih berpegang dengan nilai seni, kita sebenarnya mempunya sebuah seni yang sangat keren untuk dilewatkan. Sebuah seni tentang pengendalian diri. Jadi sebelum kopi atau musikmenjadi candu untuk diri, kita perlu meninggalkannya sejenak untuk beberapa hari. Sebuah seni yang mungkin akan sulit diterapkan jika itu tentang perasaan. Jika kita menyukai seseorang, kita pasti akan kesulitan untuk sekedar meninggalkannya barang sehari.

Berbeda dengan kopi, musik, nikotin, ganja dan semua bahan candu di dunia ini. Karena seni itu bersumber dari perasaan, seni tidak akan bisa mengendalikan perasaan. Oleh sebab itu, entah kapan awalnya, sekarang kita bisa mendengar lagu, membaca fiksi, menonton drama, melihat lukisan yang megah dan membuat kita kagum. Ya, seni itu adalah wujud dari perasaan manusia.

<script src="http://kumpulblogger.com/scahor.php?b=234001" type="text/javascript"></script>

Thursday, 26 November 2015

Etc.

Perjalanan masih panjang bagi sebagian orang. Pergi di akhir pekan, jalan- jalan malam atau hanya sekedar nongkrong bareng, banyak bercerita dengan teman yang pandai menyimpan rahasia. Adakah teman yang akan menemani kita? Kita sama- sama terjebak dalam diri kita sendiri. Kepercayaan yang menurut kita memang layak dipertahankan. Begitukan?

Malam masih bergerak, lembut, menyisir gelap di sepanjang perjalanan ini. Membuat sedikit bosan karena kita yang tak pernah menemukan apapun untuk sekedar merasa puas dengan diri kita. Atau kita hanya sedang kelelahan? Di titik ini, kita merasa kita adalah hal gagal yang tak perlu diceritakan. Kita banyak mengkoleksi cerita gagal tentang diri kita sendiri, dan menyimpannya agar tidak terlihat.

Kita mendapati diri di tengah hal lucu berupa keputusasaan. Yang sebenarnya, kita sendiri tidak tau apa kita layak untuk putus asa. Salah satu syarat seorang itu boleh putus asa adalah ketika dia sudah tidak mempunyai apapun untuk berjuang. Dan kita masih mempuyai semua yang dibutuhkan untuk melanjutkan perjalanan. Semangat, dan apapun itu kita masih memilikinya. Teman yang siap melucu ketika kita sedih, teman yang akan rela mentraktir kopi ketika kita sedang bokek, teman yang tidak akan membiarkan kita tertawa sendirian nanti.

Pernah di malam- malam yang bosan, aku melamunkan banyak hal tentang masa depan. Tentang rumah idaman ku nanti, tentang pekerjaan apa yang menghidupi ku nanti, tentang siapa pendampingku, tentang pergi traveling yang tak pernah membuatku bosan meski menghabiskan banyak uang, tentang menjalani hari- hari tua ku nanti. Rasanya sangat lucu ketika membayangkan itu semua. Meski sekarang aku lebih menyukai kesendirianku, aku, berharap hal baik untuk diriku nantinya. Dan kenyataannya, aku malu menuliskan harapanku disini.

Aku berharap, aku bisa berguna untuk orang lain, mungkin tidak secara langsung, bahkan aku tidak ingin terlihat karena aku tidak suka meninggalkan jejak di di kehidupan siapapun. Aku takut untuk sekedar bilang "aku menyukaimu" karena aku takut orang menyukaiku. Aku takut untuk sekedar menawarkan bantuan ketika melihat orang sedikit kerepotan karena aku tidak suka merepotkan orang orang lain meski aku sedang sangat kerepotan. Mungkin aku takut pada sebuah kepercayaan, atau mungkin aku takut untuk menjadi manusia normal yang berperasaan. Jelasnya, aku takut untuk menjadi makhluk hidup.

Hari berganti, dan kita sedang mencari cerita untuk esok hari.



Saturday, 14 November 2015

Relationship

Kelihatannya akan ada banyak kesenangan yang hadir di bulan ini. Para pecinta hujan akan senantiasa menanti dengan harap adanya hujuan. Para petani bisa segera bercocok tanam di lahan mereka. Para penjual jas hujan dan payung unyu akan banyak pembeli. Dan para jomblo akan meratapi nasib di pojok kamar masing- masing. Interesting.

Ya, beberapa anggapan bisa saja dengan lincah mengucur dari lidah beberapa orang. Mulai dari perubahan sikap yang terjadi, perubahan iklim di bumi pertiwi, perubahan rindu menjadi sekedar basa- basi, atau perubahan selera humor ketika kita mulai bosan. Orang- orang akan banyak beradu argumen untuk sekedar mengisi waktu luang di tempat tongkrongan, menunggu kopi menjadi tak tersisa kemudian memesannya lagi, dan sambil mencari siapa yang paling betah ngomong kesana kemari. Seperti sebuah perlombaan.

Sebuah hubungan.
Kita dan keseharian sering sekali mempertemukan dengan orang- orang baru. Menjalani sebuah hubungan pertemanan yang sedikit banyak memberi kita hal untuk selalu mengerti dan mempelajari. Mulai dari kebiasaan yang kita toleransi, prinsip hidup yang harus kita hormati, sikap dan sifat yang perlu kita ketahui. Dan sebagai seorang penjalin hubungan yang baik, kita tak perlu mempermasalahkan kekurangan orang. Tidak mengeluhkan teman yang selalu terlambat datang, tidak mengeluhkan teman yang selalu minta dibayarin ngopi, tidak mengeluhkan teman yang selalu ngomong kesana- kemari dan yang paling penting tidak ngomong dibelakang.

Menjalani hubungan yang baik itu gampang- gampang susah. Kadang ada orang yang hubungannya dengan orang lain baik- baik saja tetapi dengan keluarganya gagal. Atau sebaliknya. Ada juga orang yang berhasil menjalani hubungan yang baik dengan semua lingkup sosialnya. Atau juga ada orang yang sebaliknya. Dan ada- ada saja memang.

Intinya sih, kalo masih ingin menjaga hubungan baik dengan lingkup sosial disekitar kita, sebisa mungkin jangan suka ngomongin teman lain. Gak baik lho. Untuk orang- orang yang sudah bisa mikir pasti bakal menjauh dari orang- orang yang kayak gini. He'em, yang suka ngomongin orang lain. Salah- salah malah kita sendiri nanti yang diomongin, kan gak banget.

Ya udah. Dari pada ngomongin temen sendiri lebih baik ngomongin semut, atau kambing, atau sapi, atau kura- kura, kan lebih keren. Gitu aja sih.